Kamis, 19 Januari 2023

resah

Sayang sekali kita terjebak pada pertengkaran-pertengkaran kecil yang tak terselesaikan dan berkali-kali kita terlarut pada kecurigaan-kecurigaan yang tak beralasan.
hal kecil yang sering dikesampingkan itu kini menjadi dominan hingga akhirnya saling mengasihi yang selama ini kita bina perlahan menghilang, untuk hal ini kita lagi-lagi tersesat.

Selasa, 26 Mei 2020

Kalimat 3 (buruk yang baik salah yang benar)

Siang, terik mentari melelehkan jalan-jalan kota Makassar, bunyi klakson kendaraan yang berdesakan saling mendahului. Tertulis sebuah cerita pendek seorang pemuda yang melempar limbah plastik pada jalan raya milik tengkulak, dari seberang jalan seorang gadis yang melihat kejadian itu gusar, dengan wajah kusut ia berteriak lantang "heiii pemuda, buta kamu? Ini jalan raya, bukan tempat sampah Gobl*k!!!" Sembari melangkahkan kaki menuju arah pemuda dan limbahnya. 
Pemuda itu membalikkan badan mendengar suara teriakan seorang gadis memakinya dari seberang jalan, akan tetapi pandangannya tidak mengarah pada gadis itu.
Ia menatapi seseorang yang melangkahkan kaki tak beralas pada terik mentari yang melelehkan aspal. Pak tua berjalan menghampiri limbah yang dibuang pemuda tadi.
Langkah kaki sang gadis yang hendak memungut limbah plastik itu terhenti tepat di tiga langkah terakhirnya, ia terdiam, luapan kemarahannya terhenti dan niat untuk mengembalikan limbah pemuda tadi seketika hilang. 
Pak tua mendahuluinya. Dengan senyum merekah terlukis pada pipi yang nampak keriput ia memungut lembaran-lembaran kehidupannya dari limbah-limbah plastik buangan masyarakat, "Alhamdulillah, hari ini keluarga saya dapat makan".
Mantra kalimat do'a yang terucap itu melambung tinggi menembus pintu-pintu langit, menggetarkan hati setiap yang mendengarkan, tanpa terkecuali pemuda dan gadis yang terpaku memandangi sebuah kejadian yang entah mengharukan atau memilukan.
Sang gadis tersadar, pemuda itu mengajarkan sebuah perilaku buruk yang baik, salah yang benar.

Bingkai-bingkai kausalitas yang klimaksnya terkadang dilimpahkan pada dua topeng yang berbeda peran.

Jeneponto 26 🌙05, 2020
Kamar rumah.

Senin, 25 Mei 2020

Kalimat 2 (hujan petir kilat dan ketakutan)

Awan hitam menyelimuti birunya langit, membungkam senyum sang senja.
Hujan turun menghempas kaki-kaki semesta diiringi kilat dan gemuruh petir menyambar atap-atap rumah. Senja kala itu sepasang mata menatap pekak mengharapkan hujan kali ini menyuburkan tanaman di halaman-halaman rumah. Sebuah harapan yang di iringi kekhawatiran setelahnya
"apakah petaka yang akan di timbulkan hujan dan kilatan petir itu?, akankah banjir, longsoran tanah, pohon tumbang, ataukah berita-berita buruk akan datang bertamu?".

TIDAK, semoga itu hanya ketakutan semata yang pada akhirnya akan berlalu, berganti dengan bermekarannya bunga kamboja, mawar, dan bunga-bunga lain di taman rumah.
Tenanglah Semesta.

Jeneponto 25 🌙 05, 2020
Teras belakang rumah.

Minggu, 24 Mei 2020

Kalimat 1 (Malam Takbiratul ihram)

Demimu (manusia-manusia yang berinteraksi, tanah-tanah yang terinjak dan menghimpit, gunung-gunung pesakitan yang terdaki, lautan yang ombaknya menggulung, udara yang bersih dan berpolusi). 
Duduk merenung seorang yang penuh sesal.
Seorang perokok yang menjadikan udaranya tercemar
Seorang pendaki yang tak mampu merawat alamnya yang kini meradang kesakitan
Seorang penyelam yang tak mampu berenang
Seorang manusia yang tak pernah menjadi utuh
Seorang yang banyak salah namun enggan mengucap maaf. 
Ia memberanikan diri menyusun kalimat-kalimat do'a yang entah mampu sampai pada Sang penerima do'a atau terhempas kembali menjadi sebuah kalimat-kalimat hampa tanpa tujuan
"semoga kesalahan setiap gerak tubuh dapat termaafkan, bersalah dan termaafkan lagi".

Teruntuk tanah yang kupijak 
"maafkan langkah kaki ini yang kerap kali berjalan menuju jurang kemaksiatan dan dosa lalu dengan lihai berjalan berlari dan menari, menginjak dan melompat ria diatasmu. Semoga kelak ketika raga dan ruh ini di pisahkan lalu dimasukkan pada liang lahat, engkau akan melunakkan himpitanmu hingga tubuh ini dapat kembali menyatu dengan zat pembentuknya 'tanah' kurangi sakit yang akan engkau lampiaskan pada raga yang penuh dosa ini.

Teruntuk langit yang tinggi dan berlapis "semoga setiap kalimat dari pendosa yang ia berikan judul Do'a dapat engkau berikan setitik cela untuk ia arungi, bukakan jalannya do'a ini agar sampai pada Sang penerima do'a. 

Teruntuk Tuhan 
Engkau Maha tau maksud hati, kalimat dan do'a ini. Tulus dan dustanya aku tiada mampu menakarnya. Hanya Engkaulah Maha tau isi hati hambamu".

Jeneponto, 23 🌙 05, 2020.
Pukul 20.32 Wita.
Menyambut Idul fitri 1441 Hijriah.
Irhan Pratama