Siang, terik mentari melelehkan jalan-jalan kota Makassar, bunyi klakson kendaraan yang berdesakan saling mendahului. Tertulis sebuah cerita pendek seorang pemuda yang melempar limbah plastik pada jalan raya milik tengkulak, dari seberang jalan seorang gadis yang melihat kejadian itu gusar, dengan wajah kusut ia berteriak lantang "heiii pemuda, buta kamu? Ini jalan raya, bukan tempat sampah Gobl*k!!!" Sembari melangkahkan kaki menuju arah pemuda dan limbahnya.
Pemuda itu membalikkan badan mendengar suara teriakan seorang gadis memakinya dari seberang jalan, akan tetapi pandangannya tidak mengarah pada gadis itu.
Ia menatapi seseorang yang melangkahkan kaki tak beralas pada terik mentari yang melelehkan aspal. Pak tua berjalan menghampiri limbah yang dibuang pemuda tadi.
Langkah kaki sang gadis yang hendak memungut limbah plastik itu terhenti tepat di tiga langkah terakhirnya, ia terdiam, luapan kemarahannya terhenti dan niat untuk mengembalikan limbah pemuda tadi seketika hilang.
Pak tua mendahuluinya. Dengan senyum merekah terlukis pada pipi yang nampak keriput ia memungut lembaran-lembaran kehidupannya dari limbah-limbah plastik buangan masyarakat, "Alhamdulillah, hari ini keluarga saya dapat makan".
Mantra kalimat do'a yang terucap itu melambung tinggi menembus pintu-pintu langit, menggetarkan hati setiap yang mendengarkan, tanpa terkecuali pemuda dan gadis yang terpaku memandangi sebuah kejadian yang entah mengharukan atau memilukan.
Sang gadis tersadar, pemuda itu mengajarkan sebuah perilaku buruk yang baik, salah yang benar.
Bingkai-bingkai kausalitas yang klimaksnya terkadang dilimpahkan pada dua topeng yang berbeda peran.
Jeneponto 26 🌙05, 2020
Kamar rumah.