Duduk merenung seorang yang penuh sesal.
Seorang perokok yang menjadikan udaranya tercemar
Seorang pendaki yang tak mampu merawat alamnya yang kini meradang kesakitan
Seorang penyelam yang tak mampu berenang
Seorang manusia yang tak pernah menjadi utuh
Seorang yang banyak salah namun enggan mengucap maaf.
Ia memberanikan diri menyusun kalimat-kalimat do'a yang entah mampu sampai pada Sang penerima do'a atau terhempas kembali menjadi sebuah kalimat-kalimat hampa tanpa tujuan
"semoga kesalahan setiap gerak tubuh dapat termaafkan, bersalah dan termaafkan lagi".
Teruntuk tanah yang kupijak
"maafkan langkah kaki ini yang kerap kali berjalan menuju jurang kemaksiatan dan dosa lalu dengan lihai berjalan berlari dan menari, menginjak dan melompat ria diatasmu. Semoga kelak ketika raga dan ruh ini di pisahkan lalu dimasukkan pada liang lahat, engkau akan melunakkan himpitanmu hingga tubuh ini dapat kembali menyatu dengan zat pembentuknya 'tanah' kurangi sakit yang akan engkau lampiaskan pada raga yang penuh dosa ini.
Teruntuk langit yang tinggi dan berlapis "semoga setiap kalimat dari pendosa yang ia berikan judul Do'a dapat engkau berikan setitik cela untuk ia arungi, bukakan jalannya do'a ini agar sampai pada Sang penerima do'a.
Teruntuk Tuhan
Engkau Maha tau maksud hati, kalimat dan do'a ini. Tulus dan dustanya aku tiada mampu menakarnya. Hanya Engkaulah Maha tau isi hati hambamu".
Jeneponto, 23 🌙 05, 2020.
Pukul 20.32 Wita.
Menyambut Idul fitri 1441 Hijriah.
Irhan Pratama
Matap Kak Tetap Berproses Seniorku 🙏
BalasHapusMakasih banyak ndik. Jangan terlalu sering berkunjung. Saya takut kalimat-kalimatmu tak lagi terdengar namun tertuang lewat coretan-coretan tak beralamat sepertiku.
Hapus